SUPPORT YOUR LOCAL MOVEMENT




                       Support your local movement, yap dukung pergerakan lokal anda. Slogan tersebut terbesit dalam benak saya ketika ada seorang teman yang menceritakan tentang bagaimana dia kesusahan, tentunya dari sudut pandangnya ketika menjadi salah satu panitia yang mengorganisir sebuah gigs kecil di pinggiran kawasan tempat tinggal saya. Apa hubungan antara slogan tersebut dengan “sambatan” teman saya? Sepertinya saya merasa bahwa semua kalimat keluhan teman saya ini merupakan sindiran untuk saya. Dalam kesempatan itu saya merasa menyesal karena hanya bisa membantu “meminjamkan” telinga sebagai “tempat sampah” atas semua keluhan teman saya. Malu rasanya karena hanya bisa mendengar keluhannya. Beberapa saat setelah obrolan tersebut berakhir, kami berpisah untuk menuju kediaman kami masing-masing.
            Sesampai dirumah, saya kembali memikirkan penyesalan saya tadi, hmm..seharusnya saya tidak boleh terlalu menyesal karena tidak bisa membantu dia. Toh, band saya nanti juga bakalan tampil di gigs yang dia organisir. Pertemuan tadi memang tidak hanya membahas tentang keluhan teman saya, tapi juga untuk menyerahkan iuran kolektif band saya sesuai dengan “nominal” yang telah disepakati bersama antara band dan panitia, tidak kurang atau lebih. Hati saya sedikit lega setelah ingat dengan “bagian” saya dalam menyikapi keluhan teman tersebut. Posisi saya memang sebagai pengisi acara dan pendukung secara materiil dalam gigs tersebut, namun jika saya masih bisa memberikan dukungan lain, saya rasa itu merupakan sebuah “sunnah” bagi saya. Terlepas dari akan seberapa besar dan seberapa  signifikan bantuan tersebut. Mungkin, memang porsi support atau dukungan kita dalam skena lokal yang tepat mesti sesuai dengan posisi kita. Yah mungkin... karena memang itu hanya sekedar opini saya.
Singkat kata, hari berganti dan gigs terlaksana, selang beberapa jam setelah gigs usai, muncul cerita tentang gigs tersebut. Penggosip seperti saya memang sangat suka dengan cerita-cerita baru tentang keadaan skena sekitar saya.hehehe... cerita tersebut sedikit membuat saya bertanya lagi tentang pendapat bahwa “support harus sesuai dengan posisi kita”. Terlepas dari benar atau tidak cerita tersebut, apa yang saya dengarkan benar-benar membuat saya menggelengkan kepala. Seharusnya cerita tersebut tidak saya tulis disini. Jujur, karena saya sendiri belum melakukan klarifikasi pada semua pihak tersangkut. Selain belum melakukan klarifikasi, sebenarnya saya juga malu untuk menulisnya. Mengapa? Karena dengan menulisnya sama saja dengan membuka aib skena lokal saya. Tapi apalah arti sebuah rasa malu? jika malu tersebut tidak memberikan pembelajaran pada kita. Yah.. saya memang menulis hal yang saya rasa memalukan ini untuk menambah wawasan kita, dan mungkin juga sebagai bahan renungan dan pembelajaran untuk kita bersama.
Cerita tersebut dituturkan oleh seorang teman yang sedang bersantai dengan saya di sebuah warung lesehan. Teman tersebut menceritakan bahwa si A yang merupakan salah satu panitia kembali “sambat“, bahwa ketika dia menjaga pintu masuk, beberapa orang memaksa masuk tanpa menunjukkan tiket yang dia beli. Mungkin tiketnya hilang..mungkin saja, atau mungkin uang yang dimiliki tidak cukup untuk membeli tiket? Bisa jadi.. ah begitu banyak kemungkinan yang muncul tiba-tiba dalam benak saya sembari mendengarkan teman saya. Tak disangka, alasan yang sesungguhnya ternyata diucapkan sendiri oleh “slonong boy” (Entah mengapa saya suka sekali dengan istilah slonong boy yang digunakan untuk melabeli para penonton yang masuk tanpa membeli tiket ini. Termasuk melabeli diri saya sendiri ketika masuk tanpa membeli tiket, karena tiketnya sudah habis.hahaha :P) ini, dan alasan tersebut tidak ada dalam tebakan saya.hahaha
“aku massa e band X” (saya adalah massa band X) bisa anda bayangkan ketika anda menjaga tiket dan mendengar kalimat itu ketika seseorang tiba-tiba memaksa masuk tanpa membeli tiket? Heii...ada apa sebenarnya dengan istilah “massa” ?. Sebegitu saktikah  kata massa ini sehingga mampu membuat pengucapnya merasa mampu nyelonong masuk gig tanpa perlu beli tiket?hmm... who knows?. Di sisi lain, saya benar-benar tidak tahu kapan seseorang bisa disebut “massa”sebuah band.
Oke, setelah sempat tertegun ketika mendengar cerita tersebut, saya mencoba mundur sedikit dari sudut pandang saya. Mungkin...lagi-lagi mungkin, yah..mungkin teman “slonong boy” kita ini sudah berbuat banyak untuk band X tersebut..ya..mungkin.. sehingga dia merasa bebas masuk dalam gigs yang band X ini tampil, atau mungkin teman kita ini merasa porsi supportnya adalah dengan memeriahkan lantai dansa ketika band favoritnya tersebut tampil, yah walaupun tanpa membeli tiket..  
Salah satu alternatif alasan lain adalah, mungkin ia merasa band X sudah banyak menarik pembeli tiket sehingga dia bebas masuk. Mengapa saya bisa memikirkan alternatif jawaban terakhir tentang mengapa dia nyelonong masuk?. Karena memang menurut penuturan salah satu panitia(terlepas benar atau tidaknya)... ada beberapa band yang meminta sejumlah fasilitas kecil pada panitia, mungkin..lagi-lagi opini buta saya muncul, mungkin karena band tersebut merasa mampu menarik banyak pembeli tiket? Mungkin, bisa jadi...bisa jadi(para penggila segmen indonesia pintar di salah satu program TV swasta pasti hafal dengan kata tersebut :P ).
Ah...tapi semua band dalam gigs tersebut seingat dan setahu saya ikut menyumbangkan iuran kolektif lha tapi kok minta fasilitas dari panita?(kasian panitianya kan ya?orang panitia nggak punya dana, jadi ngajak kolektif kok malah dimintain fasilitas :p), terlepas dari seberapa banyaknya iuran kolektif yang diberikan. Karena teman saya sebagai panitia menuturkan ada band yang memberikan iuran kurang dari kesepakatan, dan saya juga melihat ada band yang membayar lebih dengan alasan rasa solidaritas setelah mendengar bahawa ada band yang membayar iuran dibawah nominal yang telah jadi kesepatan.
Di sudut lain panitia memang seharusnya tahu diri. Ya jadi kalau band yang akan mereka ajak ikut kolektif adalah band “besar” dan minta yang aneh-aneh, kalo nurut saya sih ya sebaiknya gugurkan saja keinginan ngajak mereka kolektif.hehe
Daripada panita kesulitan memenuhi permintaan band tersebut?haha… toh, saya yakin masih banyak band yang mau ikut kolektifan  dan tidak minta hal yang nyeleneh-nyeleneh.haha
Oke, Saya sepertinya memang benar-benar sudah ketinggalan jauh sekali, karena menurut saya bukan sebuah tindakan yang etis ketika dalam sebuah gigs yang benar-benar DIY tanpa embel-embel sponsor, yang hanya bermodalkan niat kuat panitia, iuran panitia serta sumbangan band, serta penjualan tiket mampu membuat beberapa band yang merasa atau memang bisa menarik pembeli tiket dalam jumlah besar meminta beberapa fasilitas yang harus disediakan panitia sebagai salah satu ritual pengundangan band tersebut, karena menurut band tersebut itulah standart yang harus dipenuhi saat mengundang mereka.
Mungkin asumsi saya tersebut diatas benar-benar sudah ketinggalan zaman karena dewasa ini sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah ketika para panitia terlalu memanjakan salah satu atau beberapa pengisi acara yang dirasa telah “bernama” serta dirasa mampu menarik banyak pembeli tiket yang menyebabkan gigs ramai dan menutup biaya yang dikeluarkan panitia. Mungkin ini semacam simbiosis mutualisme? Yah, jadi band yang menjadi magnet, mendapat perlakuan yang menyenangkan serta beberapa fasilitas lebih dari panitia. Karena pemberian fasilitas tersebut dilakukan panitia sebagai bentuk balas jasa karena telah “menyewa” magnet band tersebut sehingga gigs ramai dan modal mereka bisa kembali, syukur-syukur bisa untung..hehe
Sepertinya itu lah bentuk support sesuai porsi para band yang dirasa telah “bernama”dan mampu menyerap banyak pengunjung. Lantas bagaimana dengan tanggung jawab moral band ini dalam menyikapi para pengaku “massa” mereka? Entahlah..haha... karena bisa saja si Slonong boy ini sengaja nyelonong dan  mengatasnamakan band X agar band tersebut kelihatan jelek…ahhh begitu banyak kemungkinan….
Kembali ke bentuk support. Lalu bagaimana sebenarnya bentuk support yang tepat itu? Saya juga masih bingung.hehe.. Support benar-benar unik , support ini seperti air, yang bisa jernih, keruh, dan bahkan berbentuk apa saja, bahkan berubah bentuk jadi es.hehe… support memang bisa kita bentuk menjadi berbagai macam rupa oleh kita semua. Seperti yang juga saya temui dalam jejaring sosial beberapa waktu lalu. Ada sebuah posting flyer gigs, dan sebuah komen yang kurang lebih seperti ini “band saya bisa support Bro?” ketika membacanya saya merasa tergelitik untuk bertanya tentang makna support disini. Sayangnya, penulis komen tersebut tidak menjawab pertanyaan saya tentang arti support yang akan dia berikan. Namun menurut penjelasan seorang teman saya yang melihat pertanyaan saya tersebut, sebuah band yang menawarkan “support” pada salah satu panitia gigs adalah band yang akan mengisi line up gigs tanpa dibayar, atau juga tanpa membayar iuran kolektif, meski gigs tersebut menawarkan opsi ikut tampil dengan membayar iuran kolektif/ regist.
Mungkin band yang menawarkan support tersebut “merasa” sudah bernama dan mampu menyerap banyak pembeli tiket sehingga dia menawarkan support untuk bermain tanpa dibayar atau memang benar-benar sudah bernama dan mampu menyerap banyak pembeli tiket? Atau mungkin band tersebut memiliki alasan lain tentang bentuk support mereka yang akan mengisi line up gigs tanpa dibayar, atau juga tanpa membayar iuran kolektif ? Oke, lama-lama saya bisa jadi dukun karena terus menebak.hahaha
Pemaknaan slogan Support Your Local Movement nampaknya menjadi semakin unik hari ini. Berkaca dari banyak kejadian yang saya lihat,baca, dengar, dan rasakan belakangan ini bukan tidak mungkin beberapa tahun kedepan bentuk support juga akan semakin beragam, dan tak menutup kemungkinan pemaknaan slogan Support Your Local Movement juga akan semakin luas.
Saya memang harus terus belajar agar bisa mendefinisikan dan melakukan support yang tepat, lantas bagaimana kesimpulan saya akan pemaknaan support yang tepat tersebut? Sampai sejauh ini, saya masih memaknainya dengan mendukung sesuai dengan porsi/posisi kita.
Ingin nonton gigs? belilah tiket.
Ingin manggung tapi tidak diundang? Bikin gigs sendiri, kalo kesulitan ya ikutlah iuran kolektif sesuai nominal yang sama dengan band lain yang kolektif.hehe
Ingin mendengarkan album band lokal favorit kita? kalo belum ada rezeki bolehlah googling cari gratisan (tidak begitu disarankan, walau saya kadang juga gitu :p) ato nge-bluetooth dari hp teman sebelah,  dan tolong jangan bertanya pada band yang bersangkutan tentang link free download album mereka.hehe... percayalah ada beberapa band yang kesakitan hatinya ketika anda melakukan hal tersebut. Kalo musiknya cocok di telinga dan ada rezeki, sangat disarankan beli copy fisiknya.
Lakukan apapun yang anda rasa memang tepat untuk dilakukan sebagai dukungan pada local movement anda, dan  jangan lupa, tetaplah bertukar pikiran dengan banyak orang agar kita bisa terus mengais untuk menemukan dan melakukan dukungan yang memang dirasa tepat J.

Leave a Reply